
Keramik Lantai Retak? Inilah Metode Pemasangan yang Tepat
Masalah Keramik Lantai Retak bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga tanda bahwa ada yang salah dalam pemasangan atau persiapan bawah lantai. Banyak orang mengira retakan hanya karena benturan, padahal akar masalahnya bisa jauh lebih sistemik dan berkaitan dengan cara pemasangan itu sendiri.
Ketika pemasangan tidak memperhatikan rincian teknis seperti persiapan subfloor, pilihan perekat, hingga ruang ekspansi antar ubin, risiko Keramik Lantai Retak seiring waktu menjadi jauh lebih tinggi. Di artikel ini kita akan bahas solusi praktis dan langkah pemasangan profesional yang bisa kamu terapkan atau diskusikan dengan kontraktor.
Mengapa Lantai Bisa Retak?
Bayangkan baru beberapa bulan memasang keramik di rumah, tiba-tiba muncul retakan di beberapa titik. Tidak hanya mengganggu pemandangan, retakan ini juga menandakan ada masalah serius pada struktur dan teknik pemasangan. Masalah Keramik Lantai Retak sering kali dimulai dari subfloor yang kurang rata, perekat yang salah, atau nat yang terlalu rapat. Bahkan ubin terbaik sekalipun bisa retak jika teknik pemasangan salah.
Penyebab Umum Keramik Lantai Retak
1. Permukaan Dasar Tidak Stabil atau Tidak Rata
Salah satu penyebab paling umum keramik lantai retak adalah permukaan subfloor yang tidak rata. Subfloor yang bergelombang membuat keramik tidak memiliki dukungan penuh di setiap titiknya. Akibatnya, ketika ada beban yang berada di atasnya, tekanan tidak terdistribusi secara merata sehingga keramik menjadi lebih mudah retak atau pecah.
2. Perekat Tidak Tepat, Tidak Merata, atau Tidak Cukup
Penggunaan perekat yang tidak sesuai jenis atau kualitasnya menjadi penyebab penting lain keramik retak. Jika adukan semen atau mortar tidak memiliki komposisi yang tepat, daya rekat antara keramik dan subfloor menjadi lemah. Hal ini membuat keramik mudah bergeser, menggelembung, atau bahkan retak saat diinjak.
3. Kurangnya Ruang untuk Ekspansi (Jarak Nat dan Expansion Joint)
Keramik dan struktur di bawahnya tidak statis—material akan memuai dan menyusut akibat perubahan suhu dan kelembapan. Ketika keramik dipasang terlalu rapat tanpa nat atau ruang ekspansi yang cukup, tekanan internal meningkat saat terjadi pemuaian. Peningkatan tekanan ini sering menyebabkan retak atau popping (terangkat/terlepasnya ubin).
4. Pergerakan Struktur Bangunan atau Permukaan Tanah
Selain faktor teknis pemasangan, pergerakan struktur bangunan atau subfloor akibat faktor geologis juga dapat menyebabkan retak. Penurunan tanah, gempa kecil, atau pergeseran pondasi lambat namun terus-menerus membuat lantai mengalami tekanan berbeda di beberapa titik. Kondisi tersebut berimbas langsung pada retakan keramik.
5. Perubahan Suhu dan Faktor Lingkungan
Perubahan suhu yang signifikan—misalnya ruang yang mengalami panas di siang hari dan dingin di malam hari—membuat keramik memuai dan menyusut berulang. Tekanan akibat perubahan ini, khususnya pada ubin yang tidak memiliki ruang ekspansi atau dipasang terlalu rapat, dapat menyebabkan retak
Metode Pemasangan Keramik Lantai Agar Tidak Retak
1. Persiapan Subfloor yang Maksimal
Sebelum pemasangan, pastikan permukaan lantai:
- Bersih dari debu, minyak, atau sisa bahan lama
- Diratakan dengan waterpass atau alat laser level
- Diperbaiki jika ada tonjolan dan lekukan
Langkah ini adalah pondasi dari instalasi yang bebas retak.Â
2. Pilih Mortar/Perekat Keramik Berkualitas
Gunakan mortar atau perekat keramik khusus untuk memastikan keramik menempel kuat dan stabil pada lantai maupun dinding. Mortar khusus keramik memiliki elastisitas dan daya rekat yang lebih tinggi daripada campuran semen–pasir biasa, sehingga mampu mengikuti pergerakan kecil pada struktur bangunan tanpa mudah retak. Dengan menggunakan mortar berkualitas, Anda dapat mendistribusikan beban secara lebih merata dan meminimalkan terbentuknya rongga udara di bawah ubin yang sering menjadi penyebab keramik retak, kopong, atau terlepas.
- Mortar Utama MU‑420 CeraFix Perekat Keramik : Mortar instan khusus sebagai perekat keramik. Produk ini cocok untuk pemasangan keramik baik di lantai maupun dinding. Keunggulannya adalah daya rekat yang kuat dan mudah pengaplikasiannya, sehingga membantu keramik menempel dengan stabil tanpa mudah lepas.
- Mortar Indonesia K-1 & K-2 Perekat Granit/Keramik : Pilih Mortar Indonesia K-1 atau K-2 untuk merekatkan keramik, granit, maupun batu alam pada lantai dan dinding. Produk ini memberikan daya rekat tinggi sekaligus membantu mencegah keramik terangkat (popping).
- Mortar Lawu / Jaya Mortar Tile Adhesive : Produk ini tersedia dalam beberapa tipe, termasuk perekat lantai dan sistem tile on tile (keramik di atas keramik lama). Formulasinya mendukung pemasangan yang praktis dengan daya rekat yang cukup kuat untuk penggunaan sehari-hari.
-
LeichtMix Broco LM 601 Tile Adhesive : Perekat ubin premium yang mudah pengaplikasiannya dengan daya rekat tinggi, cocok untuk berbagai jenis keramik lantai dan dinding.
3. Gunakan Ruang Jarak (Nat) yang Tepat
Nat yang terlalu rapat menahan ekspansi ubin, sedangkan nat yang longgar bisa membuat ubin bergerak. Jarak 2–4 mm umumnya ideal untuk lantai rumah biasa.Â
4. Perhatikan Ruang Ekspansi/Expansion Joint
Untuk area luas, tambahkan expansion joint. Ini membantu ubin mengatasi perubahan suhu atau pergerakan alami bangunan tanpa menghasilkan retak.Â
Kesimpulan
Masalah utama yang menyebabkan Keramik Lantai Retak biasanya berasal dari metode pemasangan yang kurang tepat mulai dari persiapan subfloor, pemilihan mortar, hingga kurangnya ruang ekspansi. Dengan mengikuti panduan pemasangan di atas, risiko keramik retak bisa berkurang secara signifikan.Â
Ingin memastikan pemasangan keramik di rumahmu bebas masalah? Konsultasikan kebutuhan material dan jasa pemasangan dengan supplier atau kontraktor profesional yang terpercaya. Temukan mortar, grout, dan aksesori pemasangan berkualitas di toko material online terbaik klik di sini untuk mengecek katalog dan penawaran lengkapnya!